Transformasi Puisi ke Musik

>> Senin, 19 Desember 2011

Ada dua syarat penting untuk mentransformasi dengan baik karya puisi ke dalam karya musik. Pertama, memiliki pemahaman dan penghayatan yang baik terhadap puisi. Pemahaman dan penghayatan yang baik adalah pijakan untuk melakukan tafsir terhadap karya puisi yang akan ditransformasikan. Kedua, menguasai teori musik sebagai dasar penataan nada sehingga ruh puisi yang ditransformasikan memancarkan kharisma yang sama setelah ia luluh menjadi karya musik. Itulah poin penting dalam diskusi seusai pementasan tiga komposisi musik karya composer kondang Wayan Gde Yudane yang bertajuk “TransPuisi-Musik” di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar, Sabtu (3/12/2011).

Menurut Yudane, kedua hal tersebut merupakan pilar utama dalam memindahkan spirit puisi ke dalam gubahan musik. Di luar keduanya, penguasaan teknis juga merupakan penopang penting dari upaya kreatif ini. Nah, setelah memiliki ketiganya, hal lain yang penting adalah ketekunan untuk menemukan otentisitas yaitu sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah pernah disajikan oleh seniman lainnya.

“Otentisitas merupakan dagangan utama seorang seniman. Semakin otentik karya yang dilahirkannya, semakin bernilai seorang seniman di genrenya,” ucap Yudane.

Selain Yudane, tampil sebagai narasumber dalam diksusi tersebut adalah Tan Lioe Ie dan Ketut Yuliarsa. Tan adalah penyair yang telah banyak melahirkan karya puisi-musik. Sedangkan Yuliarsa adalah penyair yang karya-karya puisinya banyak digubah oleh Yudane menjadi komposisi-komposisi yang menarik.

Menanggapi soal proses peralihan dari puisi ke musik, Yuliarsa mengatakan bahwa ada dua landasan penting dalam berkarya yakni landasan teknis dan landasan kreatif. Landasan teknis merupakan wahana dari pewujudan gagasan-gagasan. Sedangkan landasan kreatif adalah wilayah yang harus dijelajahi oleh creator untuk mendapatkan inspirasi bagi lahirnya karya-karya bermutu.

“Inspirasi dapat datang dari mana saja. Bisa dari pohon nyiur yang melambai, bisa juga dari sebait puisi. Dalam konteks mengubah puisi menjadi musik, yang terpenting adalah bagaimana esensi keindahan di dalam puisi itu tetap terjaga dalam karya musik. Nyiur melambai tak harus tampak utuh seperti adanya,” ucap Yuliarsa.

Tentang otentisitas, Tan Lioe Ie mengatakan bahwa dalam melakukan transformasi karya puisi ke dalam karya musik, tidak semuanya harus melakukan transformasi total. Pengalihan sebagian dengan nada-nada balada yang kini menjadi arus besar dalam musikalisasi puisi, tidaklah masalah. Bagi Tan semua itu tetap mengandung otentisitas.

“Sejauh karya itu tidak menjiplak, ia tetap memiliki otentisitas. Sekalipun kadarnya tidak terlalu tinggi,” katanya.

Menurut Tan, yang penting diperhatikan oleh para seniman yang gemar menggubah musik dari karya-karya puisi, adalah menyadari kapasitas diri berkaitan dengan keterampilan bermusik dan pemahaman terhadap puisi.

“Jika merasa skill tak begitu baik, sebaiknya memilih karya puisi yang sederhana, yang tidak menuntut kecanggihan bermusik dalam mentransformasikannya.

Tiga komposisi yang ditampilkan oleh Yudane malam itu adalah “The Sita”, “Journey” dan “Entering the Stream”, semuanya beranjak dari puisi karya Yuliarsa.

Dalam komposisi pertama, sebagian lirik puisi masih tampak. Pada komposisi kedua, semua lirik puisi luruh ke dalam musik. Dalam komposisi ke-tiga, liik puisi beralih menjadi elemen musik yang abstrak.

Tentang Yudane
Wayan Gde Yudane lahir di Banjar Kaliungu, Denpasar. Ia seorang komposer yang sudah malang-melintang di panggung pementasan music di berbagai kota di dunia seperti Paris, Munchen, Switzerland, Adelaide, Melbourne, Sydney, London, Genewa, Brussel, dan banyak lagi.

Karir bermusik Gde Yudane diawali dari keterlibatannya dalam grup musik tradisiaonal Bali. Adalah I Nyoman Gebiyuh, ayahnya, yang berkeras meminta Yudane untuk menekuni gamelan dengan alas an akan memudahkannya besosialisasi dengan masyarakat di kampungnya. Padahal, Yudane kecil tak suka dengan gamelan.

Setelah melewati rentangan waktu, situasi membuat Yudane akhirnya gemar bermain gamelan. Bahkan, begitu menggebu. Selepas SMA, untuk mempertinggi kualitas bermusiknya, Yudane memutuskan untuk berkuliah di Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Hanya bertahan empat semester, ia kemudian pindah ke Jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar. Di situ ia beroleh gelar sarjana seni pada tahun 1991.

Pergaulan semasa di IKJ dan STSI membuat Yudane selalu gelisah untuk selalu menemukan berbagai kemungkinan baru dalam bermusik. Dalam kegelisahan itu, selain berkelana di ruang penciptaan music kontemporor, Yudane juga tekun mengeksplorasi kehebatan yang terkandung pada musik tradisi.

Karena ketekunannya itu, Yudane beberapa kali meraih penghargaan "Adikara Nugraha" dari Gubernur Bali sebagai Pencipta Komposisi Baru dalam musik tradisional Bali

Tahun 1995 Yudana mulai memasuki fase baru dalam bermusik. Ia membeli seperangkat komputer canggih dan mempelajari aplikasi program musik untuk keperluan penciptaan komposisi-komposisi baru. Di situ kemudian dia mendapati bahwa musik elektro-akustik memberinya berbagai kemungkinan dalam penciptaan. Lahirlah album "Laughing Water". Inilah album pertama yang membuat Yudane mendapat berbagai tawaran untuk pentas di ajang musik bergengsi d berbagai negara. Juga tawaran untuk menggarap soundtrack film

Sekilas Riwayat Bermusik

1998
- Bersama musisi Alex Grillo (Perancis) tampil dalam Konser Musik untuk Reformasi di - Yogyakarta tahun Berpartisipasi dalam "Kemah Komponis" dan "Temu Musik September" di Surakarta, Jawa Tengah

1999
"Konser Mahaswara" bersama 6 komposer Indonesia dan Francois Picard (Perancis).

2000
- Berkolaborasi dengan pemusik jazz Paul Grabowsky di Melbourne, Australia, untuk menggarap soundtrack The Theft of Sita. Garapan ini ditampilkan dalam berbagai festival seperti Adelaide Festival, The Theater Formen Festival di Hanover, dan banyak lagi.

- Berkolaborasi dengan Cristopher dan Patrick Dasen (Swiss) dengan garapan berjudul "Bali Bioskop"
Di panggung La Batie Festival di Genewa, Swiss dan Botanigue Festival di Brussel, Belgia.

2001
- Menerima penghargaan Creative Excellence dari Australian The Age Critic
- Menerima penghargaan Best Music Score dari Australian Entertainment Industry Association
- Menggarap komposisi radiophonic untuk Radio New Zealand, berjudul "Crossroads".

2003
Menggarap instalasi bunyi pada Binale Brisbane

2007
Tur ke Indonesia, Singapura dan Australia dengan NZ Trio, New Zealand.

Read More..

Rahasia Kreatif Fotografi Makro

Fotografi makro adalah sebuah upaya kreatif untuk membesarkan dunia yang mikro agar sesuatu yang sulit dilihat dengan mata telanjang dapat dinikmati dengan terang benderang. Fotografi makro dapat dilakukan oleh siapa pun dengan relatif mudah dan murah.

Untuk menghasilkan karya terbaik, seorang fotografer makro hendaknya menampilkan obyek-obyek yang difotonya secara natural. Dengan begitu, selain mendapatkan hasil jepretan yang baik, fotografer juga menjadi semakin cinta pada alam.

Itulah beberapa poin penting perbincangan fotografi makro di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar, Sabtu (26/11/2011) malam yang lalu. Acara diskusi bertajuk “Apa Asyiknya Fotografi Macro” ini yang dihadiri para pecinta fotografi, khususnya pecinta fotografi makro. Diskusi menghadirkan dua narasumber Dr. GN Alit Susanta Wirya dan Putu Sudiarta, Phd. Keduanya pengajar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Denpasar.

Dalam acara tersebut, Sudiartha berbagi beberapa trik untuk menghasilkan karya yang baik dengan peralatan yang tidak terlalu mahal.

“Yang terpenting adalah kreativitas, ketekunan dan kesabaran, “ ucapnya.

Menurutnya, dalam fotografi makro yang jauh lebih utama adalah kesediaan untuk menghayati obyek. Jika anda ingin mengabadikan kehidupan dunia serangga, maka sebaiknya anda mempelajari terlebih dahulu bagaimana kebiasan serangga tersebut dari sejak caranya makan, sehinga dia terbang, dan sebagainya.

“Soal alat bantu memotret, jika tak punya alat khusus, Anda dapat menggunakan kaca pembesar yang harganya sangat murah, untuk melakukan itu,” imbuhnya.

Apa yang diucapkan oleh Putu Sudiartha dibenarkan sepenuhnya oleh Alit Susanta. Alit menambahkan bahwa untuk mendapatkan karya terbaik dalam fotografi makro, Anda harus siap kotor dan sabar dalam menunggu momen.

“Ini bukan fotografi model, dimana obyek dapat kita atur dan arahkan. Dalam fotografi makro, kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan alam,” ucapnya.

Trik Fotografi Makro:
- Maksimalkan alat yang ada, sehingga akan menemukan trik dengan sendirinya
- Selalu jaga mood saat melakukan pemotretan untuk mendapatkan momentum terbaik.
- Tampilkan detil agar memiliki nilai lebih disbanding karya lainnya
- Gunakan tone natural untuk semua jepretan. Jangan terlalu banyak mengubah warna dengan bantuan program aplikasi photoshop.

Read More..

Mural untuk Menghapus “Budaya Lupa”

>> Senin, 21 November 2011

Saat ini ada begitu banyak isu penting seperti korupsi, pelanggaran HAM, pencaplokan tanah rakyat oleh pemilik modal, penindasan terhadap keyakinan tertentu, dan lain sebagainya, dilupakan begitu saja oleh masyarakat. Setelah sempat ramai beberapa saat di media massa isu-isu tersebut menguap begitu saja ditelan waktu. Tak jelasnya kasus Bank Century dan diterimanya para tokoh yang diduga bertanggungjawab atas pelanggaran HAM berat di Timor Leste dan Jakarta sebagai kandidat kepemimpinan nasional, merupakan segelintir contoh dari hal itu. Untuk merespons hal tersebut, para seniman rupa melakukan gerakan perlawanan terhadap budaya lupa tersebut dengan membuat karya-karya mural di sudut-sudut kota.

Demikian salah satu poin penting yang terungkap dalam diskusi seni rupa di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar, Sabtu (19/11) malam lalu. Dalam diskusi yang bertajuk “Mural sebagai Bentuk Seni Publik” tersebut tampil I Made Bayak sebagai pembicara. Bayak adalah seorang perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang kerap terlibat dalam pembuatan seni mural untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Terakhir dia diminta secara khusus untuk melukis mural bertema pelestarian lingkungan hidup di sebuat kantor lembaga yang bergiat di bidang perlindungan satwa yang bertempat di Ubud, Gianyar.

Dalam perbincangan malam itu, Made Bayak memberi paparan yang cukup gamblang mengenai seni mural. Menurutnya, mural adalah bentuk ekspresi seni rupa yang diperuntukkan bagi publik yang lebih luas dengan tembok atau dinding permanen sebagai mediannya. Mural umumnya dimaksudkan untuk menyuarakan isu tertentu sebagai bentuk perlawanan terhadap sebuah sistem yang menjadi arus utama di masyarakat. Di Bali, sebagaian Muralista, demikian para pegiat seni mural biasa disebut, mengusung semangat menghapuskan “budaya lupa” sebagai landasan berkarya. Sebagian lainnya menggunakan mural sebagai media ajakan untuk melestarikan lingkungan untuk kenyamanan hidup generasi berikutnya. Di luar keduanya, ada juga pegiat seni mural yang selalu berupaya merespons dan mengkritisi budaya Bali dalam karya-karyanya.

“Ini penting. Namun hal penting yang pertama bagi saya adalah bagaimana memanfaatkan ruang-ruang publik yang kumuh dan kotor sebagai media untuk menyuarakan isu tertentu,” ucap Bayak.

Perda Mural
Dalam sesi tanya-jawab, seorang peserta menyarankan agar para seniman mural membuat semacam asosiasi sebagai wahana untuk memperkuat diri baik dari segi teknis maupun gagasan. Juga untuk perlindungan terhadap karya-karya mural yang dibuat. Bila perlu, ucapnya, para seniman ini mendorong adanya Peraturan Daerah yang memberi ruang sekaligus perlindungan terhadap seni-seni publik.

Bayak menyambut hangat usulan itu. Namun ia mengatakan bahwa selama ini para muralista melindungi karya dengan cara melakukan pendekatan secara baik sebelum berkarya. Mula-mula mereka meminta izin kepada para pemilik tembok di mana karya mural akan dibuat. Setelah itu, mereka melakukan diskusi kecil dengan masyarakat sekitar yang akan paling sering menyaksikan karya mural tersebut.

“Dengan cara itu karya-karya kami dengan sendirinya dilindungi oleh masyarakat setempat,” tutur Bayak.

Di bagian lain, Bayak juga menyinggung perbedaan antara mural dan graffiti. Juga bagaimana menggunakan keduanya untuk meminimalisir vandalisme yang marak di kalangan anak-anak muda. ***

Read More..

Konsep Waktu dalam Tiga Film Pendek

>> Selasa, 15 November 2011

Apakah waktu? Apa penyebab waktu? Apakah dimensi waktu? Mengapa waktu menjadi melambat pada gravitasi? Mengapa waktu menjadi melambat dalam gerakan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap membuah gelisah banyak orang. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggerakkan para filsuf dan fisikawan macam Aristoteles, Einstein, dan banyak lagi untuk berkutat mencari jawabannya.

Renungan-renungan filosofis macam ini juga menginspirasi banyak sutradara untuk membuat film dengan cerita yang bertema waktu. Dalam film “Minority Report” misalnya, sutradara Steven Spielberg mengajak penonton memasuki kota masa depan yang ia bayangkan memiliki infrastruktur kota yang serba canggih dengan mobil-mobil futuristik yang melayang. Di situ juga terdapat satuan kepolisian Pre-Crime yang dapat mendeteksi tindak kriminal sebelum hal itu terjadi. Di luar itu banyak lagi film lain yang mengajak penontonnya merenungi waktu. Termasuk film-film pendek yang diputar di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar pada acara Pemutaran dan Diskusi Film Pendek, Sabtu (12 /11/2011) lalu. Pada acara yang bertajuk “Konsep Waktu dan Peristiwa dalam Tiga Film Pendek”. Pada acara tersebut diputar tiga fim pendek yakni “10 Minuta” karya Ahmed Imamovic, “Killing Time” karya Cory Williams, dan “Tea Time” karya Erik Deutschman.

10 Minuta” mengambil set di Sarajevo, Bosnia dan Roma, Italia. Plot dan cara bertuturnya sederhana. Namun, hanya dalam waktu sepuluh menit dia bisa menggambarkan kontras yang terjadi di belahan bumi yang satu dengan belahan bumi yang lain. Juga antara ras yang satu dengan ras lainnya.

Film ini berkisah tentang seorang laki-laki Jepang yang tengah melancong di Kota Roma, mencari gerai foto untuk mencetak hasil jepretannya. Setelah bertanya dan mencari-cari, dia menemukan gerai foto yang dapat mencetak filmnya hanya dalam waktu sepuluh menit. Setelah menyerahkan rol film kepada pemilik gerai, laki-laki Jepang itu keluar untuk menunggu sembari merokok.

Sementara itu, di belahan bumi yang lain, yakni di Sarajevo, dalam 10 menit yang sama telah terjadi peristiwa yang amat mencekam. Kekarasan dalam perang saudara telah mengubah kehidupan seorang anak laki-laki di kota tersebut menjadi yatim piatu. Jadi, jika dalam 10 menit si lelaki Jepang mendapatkan hasil cuci-cetak fotonya, pada waktu yang sama si anak laki-laki Sarajevo mendapati kedua orangtuanya tewas bersimbah darah...

Dalam karya yang dinobatkan sebagai film pendek terbaik di Eropa pada tahun 2002 ini, Ahmed melukiskan waktu dan peristiwa sebagai sesuatu yang nyata dan nicaya. Ia tidak sibuk berkutat mengenai apa itu waktu dan apa itu peristiwa di dalamnya. Ia hanya menunjukkan bahwa dalam sebuah kurun waktu tertentu, banyak hal yang berbeda dapat terjadi di jagat raya ini. Waktu, bagi Ahmed, adalah semacam wahana di mana berbagai peristiwa melintas.

Killing Time” mengisahkan seorang pemuda yang menghancurkan puluhan arloji dengan mebantingnya ke dinding, menginjak-injaknya, dan meninjunya. Dalam film ini, waktu terlihat seperti semacam organisme yang menyengkeram kehidupan (peristiwa) seseorang. Maka, mereka yang ingin membebaskan diri dari waktu harus menundukkannya dengan cara apa pun. Termasuk menghancurkannya.

Namun, melalui film pendeknya Cory berpesan bahwa waktu tak bisa ditundukkan dengan kemarahan. Ia mungkin dapat ditundukkan dengan cara lain, tapi itu sulit. Maka sebaiknyalah kita mengakrabi waktu dan memaknainya dengan membuat peristiwa-peristiwa penting di dalamnya.

Menurut Cory, film ini ia buat karena setiap bangun pagi dan bercermin, ia selalu melihat bayangan seorang pria tua. Kadang-kadang dia menemukan dirinya melakukan hal-hal aneh untuk mencoba dan membuktikan usianya salah. Tetapi pergulatan melawan kebenaran hanya membuatnya lelah.

“Jadi saya belajar untuk menerima perubahan waktu dan karena itu menerima siapa diri saya, hidup lebih berbahagia,” ucapnya.

Tea Time” berkisah tentang seorang wanita tua yang pada suatu sore yang tenang mempersiapkan suguhan minum untuk dirinya dan suaminya. Semua aktivitas tampak seperti sudah menjadi kebiasaan rutin selama bertahun-tahun. Ia juga menuang makanan kucing ke tempat piring khususnya. Padahal, sesungguhnya baik sang suami dan si kucing kesayangan telah mati.

Bagi Erik, waktu dan peristiwa dalam film ini adalah rangkaian ilusi yang mengerikan. Sebagai sesuatu yang terdapat di dalamnya, kita kerap membunuh dan memutilasi apa saja, termasuk kesenangan kita sendiri.

Film pendek ini dibuat dengan kamera video Super-8 tunggal, diedit langsung di kamera, dengan mengambil gambar hanya satu take per shot.

Renungan Tentang Waktu Dalam diskusi setelah pemutaran film berlangsung, pengamat budaya Sugi Lanus mengatakan bahwa ketiga film yang ditayangkan malam itu mengajak penonton untuk merenungi waktu. Setelah memberi sedikit pandangan singkat mengenai ketiga film tersebut, Alumni Jurusan Sastra Bali Fakultas Sastra Universitas Udayana itu memaparkan pandangan beberapa filsuf tentang waktu. Antara lain pandangan Henri Bergson yang dalambukunya "Time and Free Will". memilah waktu menjadi tempo dan durasi. Saya kebetulan ada aslinya. Kalau yang tertarik 'membaca kembali waktu' atau berdikusi tentang waktu, lain kesempatan saya bisa membagi literatur secara lebih memadai. Buku lain Henri Bergson terkait waktu: "Matter and Memory". Ia juga membandingkan persepsi waktu dalam perspektif Barat yang liniar dan perspektif Bali yang cyclic.

“Penghayatan masyarakat tentang waktu sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis di mana masyarakat tersebut berada,” ucapnya.

Mendengar paparan Sugi Lanus tersebut, mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali, Ida Bagus Dharmasuta, tergelitik ingatannya. Ia kemudian mengungkapkan bahwa pandangan tentang relativitas waktu telah ada dalam kesadaran masyarakat Bali sejak ratusan tahun lalu. Itu, menurut Dharmasuta, terlihat dalam cerita “Pan Balang Tamak” yang mempertanyakan standar waktu dalam rapat di Balai Banjar.

Selanjutnya, diskusi bergulir kepada harapan dan upaya mendorong para pekerja seni, khususnya para sineas Bali untuk mengekspresikan kesadaran waktu yang dihayati oleh orang Bali, dalam karya mereka.

Read More..

Musikalisasi, Dekatkan Puisi ke Khalayak Awam

Begitu lampu meredup, Wendra Wijaya dan Risma Putri langsung beraksi. Dari gitar bolong yang dipetik Wendra mengalun nada-nada menggetarkan. Nada-nada itu mengantarkan Risma melantunkan puisi-puisi karya beberapa penyair Bali ternama seperti Tan Lioe Ie, Wayan Sunarta, dan Pranita Dewi. Seketika, penonton pun terpaku.

Itulah sekelumit suasana yang tampak pada acara pekan ke-6 Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar bertajuk “Pentas dan Diskusi Musikalisasi Puisi Senja Hening”, Sabtu (5/11) lalu. Senja Hening adalah nama kelompok duo Wendra dan Risma yang telah kerap mentransformasikan puisi-puisi menjadi karya musikal yang asyik dan mudah dicerna oleh khalayak umum.

Seusai penampilan kedua seniman muda itu, acara dilanjutkan dengan diskusi seputar proses kreatif kelompok Senja Hening. Dalam perbincangan yang dipandu oleh Wayan Jengki Sunarta itu Wendra memaparkan tentang konsep dan proses berkaryanya. Menurut pengakuannya karya musikalisasi puisinya hampir seluruhnya bergaya balada karena dirinya adalah seorang yang berkecenderungan melo dramatik. Di depan puluhan hadirin, Wendra tak malu-malu mengutarakan kecenderungan dirinya tersebut.

“Karena memang begitulah saya,” tandasnya.

Tentang Musikalisasi Puisi
Tan Lioe Ie, penyair yang juga sangat intens menggeluti musikalisasi puisi, tidak terlalu sreg dengan istilah musikalisasi yang menurutnya mengesankan seolah-olah puisi tidak musikal. Ia lebih suka menggunakan istilah “musik-puisi” atau “puisi-musik”.

“Istilah ini lebih memberi tempat yang sejajar antara puisi dengan musik,” paparnya.

Lalu Tan menyampaikan beberapa informasi mengenai perjalanan musik-puisi mulai sejak Jim Morisson (The Doors), Bob Dylan, dan seterusnya. Tan juga menyontohkan bagaimana musik-puisi mengalami sentuhan lain di Belanda oleh Dess P yang mengangkatnya ke dalam music Hip hop; di Malaysia, puisi-musik sempat diangkat dalam bentuk acapella; di Suriname, Dennis Janah mengolahnya dalam nuansa Jazz; di Afrika Selatan, Diana Ferrus mengolah puisi dalam balutan musik setempat; dan di Jerman, Peter Hubermehl menggarap dengan apik puisi-puisi karya Jerman Berthold Damshausser.

Menanggapi Gede Yudana yang mempertanyakan kenapa dalam musikalisasi puisi, karya puisi yang personal kebanyakan ditransformasikan ke dalam karya musik yang sama sekali tidak personal, Tan memaparkan bahwa dalam pandangannya ada tida jalan yang selama ini ditempuh dalam proses pengalihan puisi ke dalam musik.

Pertama, pengalihan secara utuh. Pada pengalihan ini, seluruh kata dalam puisi masih tampak jelas dan urutannya pun kronologis sesuai aslinya. Kedua, pengalihan tak utuh (transformasi sebagian). Pada pengalihan dengan cara ini, hanya sebagian puisi yang beralih ke dalam karya musik dan urutannya pun tak kronologis seperti karya aslinya. Dan, yang ketiga, transformasi total. Pada cara ini, seluruh puisi lebur ke dalam musik. Tak ada lirik puisi yang serupa dengan karya aslinya. Semuanya sudah luluh menjadi nada.

“Yang seperti ini tampak pada garapan musisi I Wayan Sadra yang mengolah puisi Putu Fajar Arcana ke dalam sebuah komposisi musik,” papar Tan Lioe Ie.

Tan Lioe Ie juga menambahkan bahwa kecenderungan musikalisasi puisi saat ini yang banyak menggunakan lagu yang merakyat macam balada karena selain agar mudah dimainkan juga karena mengemban misi sebagai break thru, yakni membuat puisi lebih mudah dicerana oleh khalayak awam. Hal ini diamini oleh Lisna Efendi, pecinta sastra, yang mengaku bahwa dirinya pertama kali mengenal dan tertarik pada puisi karena menonton musikalisasi puisi.

Kembali ke soal istilah musikalisasi puisi yang menurut Tan tidak terlalu tepat, Tan menegaskan bahwa sevara pribadi, dirinya tetap berkukuh pada prinsipnya. Namun untuk kepentingan yang lebih besar, seperti memperkenalkan puisi ke kalangan seluas-luasnya, Tan tak keberatan dengan penggunaan istilah musikalisasi puisi.

“Bagi saya istilah puisi-musik menunjukkan bahwa keduanya bersenyawa. Namun, karena istilah musikalisasi puisi sudah terlanjur di kenal dan membuat banyak anak muda menyukai puisi, biarlah istilah itu tetap kita gunakan. Bagi saya, istilah bukanlah segala-galanya!” tandasnya.

Selain diskusi, acara malam itu dimeriahkan juga oleh penampilan spontan Wayan Jengki Sunarta dan Moch Satrio Welang. Keduanya membacakan beberapa puisi dengan gaya khasnya yang memikat.

Read More..

Video sebagai Perekam Jejak Psikologis Perjalanan

>> Rabu, 02 November 2011

Video report itu dibuka dengan cuplikan film Bali tempo dulu “Legong: Dance of Virgin”. Ada adegan orang Bali menari cak, menyabung ayam, dan beberapa adegan lain. Lalu mengalir silih berganti setelah itu adegan-adegan yang menunjukkan perjalanan sebuah aliran musik bernama Rockabilly. Di dalam aliran musik itulah The Hydrant, sebuah grup band anak muda asal Bali, bertumbuh. Dan, pada tahun ke-sekian mereka menjadi eksis dan kuat untuk mengepakkan sayap melanglang benua Eropa. Di situ, di depan publik Eropa mereka unjuk kebolehan bermusik.

Semua itu tergambar dalam video report garapan Erick EST yang diputar di acara pekan ke-lima Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar di Warung Tresni, Sabtu, 29 Oktober 2011, yang bertajuk “Bedah Video Report Perjalanan The Hydrant ke Eropa”. Dan, setelah pemutaran video itu, kemudian bergulir sebuah diskusi yang hangat dan akrab yang dipandu oleh Maria Ekaristi, salah seorang pegiat yang menjadi tulang-punggung DOK. Dalam diskusi yang menghadirkan dua personel The Hydrant, Wis dan Marshello, itu terungkap bahwa inspirasi video report tersebut adalah keterlibatan kakek Marshello di Wangaya Gede, Tabanan, yang menjadi salah satu pemeran dalam film “Legong: Dance of Virgin”. Keterlibatan kakeknya tersebut, menurut Marshello menunjukkan bahwa sejak tahun 1935 sudah berinteraksi dengan berbagai bangsa luar berikut teknologi modernnya.

“Itu yang membuat kami terinspirasi untuk mengawali video kami dengan cuplikan adegan tersebut dan menyambungnya dengan peritiwa-peristiwa sekarang. Kami mencoba menemukan benang merah yang menyambungkan itu semua,” ucap Marchello.

“Lalu apa benang merah itu? Marchello mengatakan bahwa, orang Bali selalu punya cara untuk menanggapi dan berdialog dengan budaya luar yang masuk ke Bali.

“Mereka menyerap dan melebur budaya luar yang datang menjadi miliknya sendiri,” papar vokalis yang sekaligus piawai sebagai penabuh drum tersebut.

Apakah “The Hydrant” melakukan hal serupa? Menurut Wis, sang gitaris, grup ini dengan penuh kesadaran melakukan hal itu.

“Bahwa kami belum sepenuhnya mampu meluluhkan warna musik yang kami geluti sehingga benar-benar menawarkan warna baru yang kental dengan nuansa Balinya, itu soal lain. Setidaknya kami sedang dalam proses yang sungguh-sungguh menuju ke situ,” ucapnya.

Sejauh ini, dan itu terekam dalam video perjalanan mereka, The Hydrant selalu menyisipkan warna Bali dalam setiap penampilan mereka. Setidaknya pada kostum yang dikenakan oleh vokalisnya.

Yang menarik, menjawab pertanyaan Maria Ekaristi tentang apa yang The Hydrant dapatkan setelah menonton sendiri video laporan perjalanan garapan Erick EST ini, Wish mengatakan bahwa mereka merasa terpesona karena menyadari diri hanya sepenggal kecil dari juntaian panjang perjalanan sebuah pilihan berkesenian. Sekaligus, dari mereka melihat bahwa video tersebut merupakan rekaman perjalanan batin grup mereka dari sejak awal berproses hingga sekarang.

“Dari situ kami belajar dan mencoba mengristalkan apa yang telah kemi peroleh sepanjang perjalanan kami untuk terus menjadi lebih di hari-hari depan,” tandas Wish.

Mengomentari video report yang dipertunjukkan, pengamat musik modern di Bali, Made Adnyana, menyebutkan bahwa pada dasarnya video perjalanan The Hydrant ke Eropa serupa dengan video perjalanan grup band Superman is Dead (SID) ke Australia. Bedanya, menurut Adnyana, video SID melulu bicara tentang konser mereka di Australia, sedangkan video The Hydrant menampilkan semacam catatan ringkas perjalanan sebuah grup band dari awal hingga menjadi sesuatu.

“Menurut saya, sebagai sebuah dokumentasi perjalanan video ini jauh lebih berbicara,” ujarnya.


Tentang The Hydrant

"The Hydrant" bermula dari sisa puing sebuah kelompok band bernama “Hydra”. Dari keruntuhan itu, Wis dan Zio, dua personel yang tersisa sepakat membangun identitas baru. Nama grup mereka ganti dengan “The Hydrant”, yang bermakna sebagai sesuatu yang sangat penting di saat terjadi musibah kebakaran. Lalu, genre bermusik mereka pun mereka alihkan dari Pop ke Rockabilly. Dan, rupanya pilihan ini menjadi sesuatu yang menyentakkan konstalasi di dunia musik Nusantara. Sebab dengan pilihan tersebut The Hydrant mencatatkan diri sebagai grup band pertama di Indonesia yang mengusung warna musik yang dipopulerkan oleh Elvis Presley ini.

Bersama Marchello dan Morris, kedua musisi muda tadi pun kemudian memermak diri. Gaya bermusik Rockabilly mereka tekuni sepenuhnya. Cara berdandan pun mereka buat a la remaja era 1950 an, di saat aliran musik ini mencapai puncak kejayaannya. Dalam waktu yang relatif cepat, keberadaan mereka menyuat dahsyat. Tiba-tiba saja mereka sudah bertengger di tangga ketenaran yang tinggi. Kian hari ketenaran itu kian menaik.

Di tengah ketenaran itu, kesadaran untuk menjadi sesuatu yang unik dan tidak sekadar epigon masa lalu, mendorong The Hydrat untuk langsung bergganti gaya. Tak lagi mereka mengenakan stelan ala 1950-an, melainkan bergaya layaknya pemuda masa kini. Gaya bermusik pun mereka ubah dan matangkan dengan melumat dan melebur gaya Elvis Presley, Stray Cats, dan Wayne Hancock ke dalam gaya mereka sendiri. Semua itu kemudian berbuah manis. EMI Indonesia, sebuah perusahaan major label melamar mereka untuk merilis Rockabilly Live.

Namun, di saat ketenaran tengah menanjak, Zio dan Morris justru memutuskan untuk mundur. Mereka memilih untuk membuat kelompok baru. Kehilangan dua sosok ini cukup hebat mengguncang The Hydrant. Namun, bagi Wis, inilah ujian bagi seorang seniman dalam dedikasinya. Setelah melewati proses pasang-bongkar beberapa kali, personel grup ini pun kembali menjadi lengkap dengan kehadiran Adi (bas betot) dan Christoper (drum). Lalu, sebagai pernyataan kebangkitan, pada 2009 mereka merilis sebuah mini album bertajuk “Bali Bandidos”. Album ini mendapat sambutan sangat hangat. Para fans mengelu-elukannya. Klip videonya yang digarap oleh Erick Est, memenangi “Radar Bali Music Award” sebagai klip video terbaik. Grup ini pun kemudian diundang untuk melanglang ke benua Eropa untuk unjuk kebolehan.

Data Grup
Nama: The Hydrant
Berdiri: 14 Agustus 2004
Genre: Rockabilly

Personel:
1. Marshello (vokal)
2. Wis (gitar)
3. Christoper (stand up drum)
4. Adi (bas betot)

Diskografi
1. Bali Bandidos (2009) - Label: Juke Joint Inc.
2. Rockabilly Live (2007) - Label: EMI Music Indonesia
3. Saturday Night Riot (2006) - Label: Electrohell Records
4. Thusrday Riot (Album Kompilasi, 2006)
5. Maximum Rock and Roll Monarchy (Album Kompilasi, 2005)
6. Peace Love and Harmon (Album Kompilasi, 2005)

Read More..

Kembali ke Masa Lalu dengan Teknologi Digital

>> Selasa, 01 November 2011

Salah satu yang istimewa dari teknologi digital adalah terbukanya ruang yang sangat lebar untuk pergi ke masa lalu. Fasilitas “undo” dalam perbagai program komputer merupakan contoh yang tepat untuk itu. Fasilitas tersebut dapat membatalkan apa yang telah kita kerjakan dan memunculkan kembali pekerjaan sebelumnya yang sudah terlindas oleh sekian langkah berikutnya. Itulah salah satu poin penting dari acara Workshop dan Diskusi Seni Rupa Digital di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar pada Sabtu, 22 Oktober 2011.

Acara yang bertajuk “Diskusi Proses Kreatif Ilustrasi Buku Khazanah Negeriku” tersebut menghadirkan Putu Ebo Supardhi, mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) periode 2005-2009 yang kini bergiat di dunia kartun dan ilustrasi buku. Sebagai pemandu bincang, tampil Jango Paramartha, kartunis kondang yang juga mantan Presiden Pakarti pada periode bersamaan dengan masa bakti Ebo.

Sebagai seorang kartunis dan illustrator yang sangat menguasai teknologi digital, malam itu Ebo menunjukkan berbagai trik penggunaan program digital untuk memudahkan berkarya. Dengan peragaan langsung Ebo menunjukkan beberapa rahasia dalam memanfaatkan program aplikasi Photoshop untuk menghasilkan karya yang baik dalam waktu yang cepat. Juga tentang bagaimana cara mebuat lukisan dengan program digital yang esona dan keindahannya persis sama dengan karya yang dibuat langsung dnegan sapuan kuas.

“Jika kita menguasi cara pembuatannya, saya jamin pesonanya sama dengan karya langsung. Hanya pada teksturlah kelemahan karya digital digital dibanding dengan lukisan tangan,” paparnya.

Selain berbagai trik, pada acara yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa seni rupa dan desain itu, Ebo juga memaparkan secara sekilas landasan teori tentang apa itu ilustrasi, untuk tujuan apa sebuah ilustrasi dibuat, serta apa kelemahan dan kelebihan ilustrasi dibandingkan dengan foto. ***

Read More..

Culinary + Blues = Crazy Cul Blues

>> Selasa, 25 Oktober 2011

CRAZY CUL BLUES (Sabtu, 15 Oktober 2011) adalah kolaborasi kreatif antara chef Ketut Go gonk (CULinary) yang mendemontrasikan pusaka kuliner Bali dengan respons musik BLUES Putu Indrawan dan kawan-kawan. Jenis masakan yang pengolahannya didemonstrasikan adalah Gecok Nyawan dan Lempet Nyawan. Gecok adalah olahan khas Bali berupa adonan sayur atau daging yang dirajang dan diberi basa gede (bumbu lengkap khas Bali). Gecok hampir menyerupai lawar. Bedanya,jika lawar melibatkan kelapa dalam campurannya, gecok tidak. Sedangkan lempet adalah olahan sayur atau daging yang setelah dibumbui lalu dibungkus daun dan direbus atau dibakar. Lempet menyerupai pesan (pepes). Bedanya, kalau pesan menggunakan bumbu yang diulek halus, lempet menggunakan bumbu yang dirajang.

Lalu, apa itu nyawan? Nyawan adalah lebah madu. Gecok dan lempet nyawan adalah dua makanan khas Bali yang berbahan lebah madu yang diolah dengan dua cara di atas. Makanan jenis ini sudah langka di Bali. Bahkan nyaris punah.

Dalam pentas Crazy Cul-Blues malam itu, Chef Ketut Go Gonk Pramana menghidupkan spirit basa gede sebagai induknya bumbu (mother sauce) Bali, yang mana, jenis bahan dan komposisinya merupakan pengejawantahan dari konsep kesetimbangan yang mendasari tata-hidup orang Bali.

"Ya, basa gede merupakan ekspresi kesetimbangan yang diejawantahkan dalam bumbu," papar Ketut Go Gonk.

Aksi Ketut Go Gonk (Foto: Abu Bakar)
Menurutnya, jika konsep basa gede diterapkan secara tepat, maka makanan yang diolah dijamin hygenis dan mengandung kekuatan spiritual yang selain menyehatkan, juga menetramkan.

Eksperesinya dalam mengolah makanan malam itu yang mendekati trance, merupakan bentuk penghayatan dari perpaduan antar bahan bumbu dalam basa gede itu. Menurut Go Gonk begitulah proses bumbu setelah diramu dan setelah berbaur di dalam tubuh. Mereka seperti para penari yang mencari formasi yang tepat untuk mereka sendiri dan untuk semuanya.

"Di dalam tubuh,
khasiat masing-masing bumbu bekerja dengan caranya sendiri. Yang hangat menggairahkan bagian tubuh yang dingin. Sementara yang dingin, menyejukkan bagian yang panas," papar juru masak yang pernah melangang ke berbagai negara itu.

Di sisi lain, Gus Martinaya, wartawan dan pengamat musik, yang hadir dan mengamati happening art tersebut mengatakan bahwa kolaborasi aksi kuliner Ketut Go Gonk dan musik blues itu sesungguhnya lebih kental semangat rock-nya. Ini, menurutnya, karena musik rock sangat dekat dengan kehidupan anak-anak muda di Bali, termasuk Go Gonk dan Indrawan. Sebab, sejak zaman keduanya masih belia 20 tahun lalu, hingga kini, setiap banjar di Bali memiliki kelompok musik tradisional yang dinamakan Bleganjur. Warna, ritme, dan hentakan nada dalam Bleganjur sangat dekat dengan apa yang ada dalam musik rock.

"Kalau pun kali ini mereka ingin menggeser ke suasana blues, itu adalah semacam kegelisahan kreativitas untuk mencobakan sebuah ramuan baru," papar Gus Martin yang kini menjabat sebagai pemimpin redaksi di sebuah koran dua-mingguan yang terbit di Denpasar itu.***

Read More..

Kerendahan Hati, Kunci Dokumenter yang Baik

Ada banyak hal yang diperlukan untuk membuat sebuah film dokumenter yang baik. Di luar dana dan kesiapan teknis lainnya, diperlukan ketekunan dan kerendahan hati dalam merekam subyek yang akan diangkat ke dalam film. Demikian salah-satu kesimpulan diskusi seusai pemutaran film dokumenter “Lampion-lampion” karya Dwitra Juli Ariana, di Dapur Olah Kreatif (DOK), Jalan Drupadi 54, Renon, Denpasar, Sabtu, 8 Oktober 2011.

Dalam “Lampion-lampion” terasa jelas kedua hal itu terpancar lewat gambar-gambar dan lantunan ceritanya. Ekspresi orang-orang yang tampak dalam film tersebut begitu wajar dan akrab. Seolah tak ada kamera yang berada di depan mereka saat masing-masing melakukan kegiatannya.

“Hal ini hanya mungkin didapat jika si pembuat film hadir di antara subyeknya dengan penuh kerendahan hati dan ketekunan yang luar biasa,” papar Abu Bakar, tokoh teater di Bali, yang turut menyaksikan film tersebut.

Film “Lampion-lampion” memang memukau. Film berdurasi 30 menit yang mengisahkan kehidupan bertoleransi masyarakat Buddha keturunan Tionghoa dan masyarakat Hindu Bali di Desa Lampu, Kabupaten Bangli, itu memesona dengan gaya bertuturnya yang bersahaja, runut dan terang. Sama sekali tak ada narasi di dalamnya. Cerita disampaikan oleh para nara sumber yang antara satu dengan lainnya dijalin dengan gambar-gambar yang antara satu dengan yang lain bertaut dengan rapi. Tak heran film karya sineas muda asal Bangli ini mampu memenangi dua Festival bergengsi. Bulan Juli lalu, film ini keluar sebagai film terbaik Festival Film Doumenter Bali (FFDB) 2011 di Denpasar. Bulan September, film tersebut kembali tampil sebagai jawara pada Festival Film Kearifan Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia, di Jakarta.

Namun begitu, ada juga sedikit kritik terhadapnya. I Made Nurbawa, Anggota KPID Bali, mengingatkan soal tidak adanya paparan detil mengenai di mana tepatnya Desa Lampu berada.

“Bagi orang Bali, mungkin hal itu tidak soal. Tapi bagi orang luar yang sama sekali tak mengetahui tentang Bali, hal itu cukup penting,” ucap Nurbawa.

Dwitra Juli Ariana (kiri) saat diskusi membedah karyanya
Kritik lain, dari Ida Bagus Dharma Suta, tentang pentingnya melibatkan narasi untuk menjelaskan beberapa hal yang sangat spesifik di desa setempat.

Terhadap hal masukan Nurbawa, Dwitra mengatakan bahwa dirinya sengaja tidak terlalu menjelaskan dengan terang gambling mengenai lokasi Desa Lampu, sebab ia ingin setelah menyaksikan filmnya penonton mencari tahu sendiri lebih jauh tentang apa yang tidak mereka ketahui itu.

“Yang lebih saya tekankan dalam film ini adalah bagaimana pesan toleransi sampai kepada penonton,” papar Dwitra.

Sedangkan tentang narasi, Dwitra dengan tegas mengatakan bahwa pendekatan tanpa narasi adalah pilihan gayanya dalam membuat film dokumenter. Sebab ia ingin gambar-gambar dalam filmnya menerangkan dirinya sendiri tanpa intervensi sehingga menjauhkan dirinya dari kecenderungan untuk menggurui.

“Saya sadar cara yang saya pilih ini memiliki kelemahan, namun inilah pilihan saya,” tandasnya.

Diskusi selama 45 menit itu berlangsung hangat dan menarik. Hadir dalam pemutaran dan diskusi tersebut tak kurang dari 68 seniman dan pecinta film documenter di Kota Denpasar.***

Read More..