Transformasi Puisi ke Musik
>> Senin, 19 Desember 2011
Ada dua syarat penting untuk mentransformasi dengan baik karya puisi ke dalam karya musik. Pertama, memiliki pemahaman dan penghayatan yang baik terhadap puisi. Pemahaman dan penghayatan yang baik adalah pijakan untuk melakukan tafsir terhadap karya puisi yang akan ditransformasikan. Kedua, menguasai teori musik sebagai dasar penataan nada sehingga ruh puisi yang ditransformasikan memancarkan kharisma yang sama setelah ia luluh menjadi karya musik. Itulah poin penting dalam diskusi seusai pementasan tiga komposisi musik karya composer kondang Wayan Gde Yudane yang bertajuk “TransPuisi-Musik” di Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar, Sabtu (3/12/2011).
Menurut Yudane, kedua hal tersebut merupakan pilar utama dalam memindahkan spirit puisi ke dalam gubahan musik. Di luar keduanya, penguasaan teknis juga merupakan penopang penting dari upaya kreatif ini. Nah, setelah memiliki ketiganya, hal lain yang penting adalah ketekunan untuk menemukan otentisitas yaitu sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah pernah disajikan oleh seniman lainnya.

“Otentisitas merupakan dagangan utama seorang seniman. Semakin otentik karya yang dilahirkannya, semakin bernilai seorang seniman di genrenya,” ucap Yudane.
Selain Yudane, tampil sebagai narasumber dalam diksusi tersebut adalah Tan Lioe Ie dan Ketut Yuliarsa. Tan adalah penyair yang telah banyak melahirkan karya puisi-musik. Sedangkan Yuliarsa adalah penyair yang karya-karya puisinya banyak digubah oleh Yudane menjadi komposisi-komposisi yang menarik.
Menanggapi soal proses peralihan dari puisi ke musik, Yuliarsa mengatakan bahwa ada dua landasan penting dalam berkarya yakni landasan teknis dan landasan kreatif. Landasan teknis merupakan wahana dari pewujudan gagasan-gagasan. Sedangkan landasan kreatif adalah wilayah yang harus dijelajahi oleh creator untuk mendapatkan inspirasi bagi lahirnya karya-karya bermutu.
“Inspirasi dapat datang dari mana saja. Bisa dari pohon nyiur yang melambai, bisa juga dari sebait puisi. Dalam konteks mengubah puisi menjadi musik, yang terpenting adalah bagaimana esensi keindahan di dalam puisi itu tetap terjaga dalam karya musik. Nyiur melambai tak harus tampak utuh seperti adanya,” ucap Yuliarsa.
Tentang otentisitas, Tan Lioe Ie mengatakan bahwa dalam melakukan transformasi karya puisi ke dalam karya musik, tidak semuanya harus melakukan transformasi total. Pengalihan sebagian dengan nada-nada balada yang kini menjadi arus besar dalam musikalisasi puisi, tidaklah masalah. Bagi Tan semua itu tetap mengandung otentisitas.
“Sejauh karya itu tidak menjiplak, ia tetap memiliki otentisitas. Sekalipun kadarnya tidak terlalu tinggi,” katanya.
Menurut Tan, yang penting diperhatikan oleh para seniman yang gemar menggubah musik dari karya-karya puisi, adalah menyadari kapasitas diri berkaitan dengan keterampilan bermusik dan pemahaman terhadap puisi.
“Jika merasa skill tak begitu baik, sebaiknya memilih karya puisi yang sederhana, yang tidak menuntut kecanggihan bermusik dalam mentransformasikannya.
Tiga komposisi yang ditampilkan oleh Yudane malam itu adalah “The Sita”, “Journey” dan “Entering the Stream”, semuanya beranjak dari puisi karya Yuliarsa.
Dalam komposisi pertama, sebagian lirik puisi masih tampak. Pada komposisi kedua, semua lirik puisi luruh ke dalam musik. Dalam komposisi ke-tiga, liik puisi beralih menjadi elemen musik yang abstrak.
Tentang Yudane
Wayan Gde Yudane lahir di Banjar Kaliungu, Denpasar. Ia seorang komposer yang sudah malang-melintang di panggung pementasan music di berbagai kota di dunia seperti Paris, Munchen, Switzerland, Adelaide, Melbourne, Sydney, London, Genewa, Brussel, dan banyak lagi.
Karir bermusik Gde Yudane diawali dari keterlibatannya dalam grup musik tradisiaonal Bali. Adalah I Nyoman Gebiyuh, ayahnya, yang berkeras meminta Yudane untuk menekuni gamelan dengan alas an akan memudahkannya besosialisasi dengan masyarakat di kampungnya. Padahal, Yudane kecil tak suka dengan gamelan.
Setelah melewati rentangan waktu, situasi membuat Yudane akhirnya gemar bermain gamelan. Bahkan, begitu menggebu. Selepas SMA, untuk mempertinggi kualitas bermusiknya, Yudane memutuskan untuk berkuliah di Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Hanya bertahan empat semester, ia kemudian pindah ke Jurusan Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar. Di situ ia beroleh gelar sarjana seni pada tahun 1991.
Pergaulan semasa di IKJ dan STSI membuat Yudane selalu gelisah untuk selalu menemukan berbagai kemungkinan baru dalam bermusik. Dalam kegelisahan itu, selain berkelana di ruang penciptaan music kontemporor, Yudane juga tekun mengeksplorasi kehebatan yang terkandung pada musik tradisi.
Karena ketekunannya itu, Yudane beberapa kali meraih penghargaan "Adikara Nugraha" dari Gubernur Bali sebagai Pencipta Komposisi Baru dalam musik tradisional Bali
Tahun 1995 Yudana mulai memasuki fase baru dalam bermusik. Ia membeli seperangkat komputer canggih dan mempelajari aplikasi program musik untuk keperluan penciptaan komposisi-komposisi baru. Di situ kemudian dia mendapati bahwa musik elektro-akustik memberinya berbagai kemungkinan dalam penciptaan. Lahirlah album "Laughing Water". Inilah album pertama yang membuat Yudane mendapat berbagai tawaran untuk pentas di ajang musik bergengsi d berbagai negara. Juga tawaran untuk menggarap soundtrack film
Sekilas Riwayat Bermusik
1998
- Bersama musisi Alex Grillo (Perancis) tampil dalam Konser Musik untuk Reformasi di - Yogyakarta tahun Berpartisipasi dalam "Kemah Komponis" dan "Temu Musik September" di Surakarta, Jawa Tengah
1999
"Konser Mahaswara" bersama 6 komposer Indonesia dan Francois Picard (Perancis).
2000
- Berkolaborasi dengan pemusik jazz Paul Grabowsky di Melbourne, Australia, untuk menggarap soundtrack The Theft of Sita. Garapan ini ditampilkan dalam berbagai festival seperti Adelaide Festival, The Theater Formen Festival di Hanover, dan banyak lagi.
- Berkolaborasi dengan Cristopher dan Patrick Dasen (Swiss) dengan garapan berjudul "Bali Bioskop"
Di panggung La Batie Festival di Genewa, Swiss dan Botanigue Festival di Brussel, Belgia.
2001
- Menerima penghargaan Creative Excellence dari Australian The Age Critic
- Menerima penghargaan Best Music Score dari Australian Entertainment Industry Association
- Menggarap komposisi radiophonic untuk Radio New Zealand, berjudul "Crossroads".
2003
Menggarap instalasi bunyi pada Binale Brisbane
2007
Tur ke Indonesia, Singapura dan Australia dengan NZ Trio, New Zealand.


















